Minggu, 13 April 2014

STRUKTUR KEPRIBADIAN MANUSIA

Setiap manusia pada dasarnya merupakan produk dari warisan genitik yang unik yang secara terus menerus dan dinamik berinteraksi dengan pengalaman-pengalaman hidup yang unik.
Perubahan-perubahan di dalam karakteristik karakteristiknya individualnya biasanya lebih cepat daripada perubahan perubahan pada aspek aspek biologis maupun sosial. Sementara orang tidak bebas dari pengaruh hokum hokum alam maupun peraturan peraturan sosial, namun unsure kebebasan individu untuk memilih di dalam perkembangannya tidak boleh diabaikan, lagipula pada setiap orang juga terdapat dorongan kearah kreatifitas dan perwujudan diri.
Faktor factor genetic, sosial dan individu bersama sama membentuk keseluruhan kepribadian seseorang, sebab itu jika kita hendak memahami kondisi- kondisi manusia, maka kita perlu menjelaskan bagaimana ketika factor factor tersebut bersama sama membentuk kepribadian manusia, salah satu yang dapat menjelaskan perihal ini adalah terori FREUDIAN DASAR TERORI FREUD, yang terkenal dengan TRIPATITE PERASONALITY yang melukiskan susunan kepribadian yang terdiri dari ID, SUPEREGO DAN EGO, yang dapat dijelaskan sbb:
1.     Fungsi Id
  • Id digambarkan sebagai cadangan impulse-impulse dasar yang primitive dan merupakan sumber energy instintif. Dasar kerja Id adalah prinsip kenikmatan (pleasure principle) dan impulsive.
  • Keimpulsivean id dikontrol oleh superego pada tingkatan tak sadar (unconscious level) serta ego yang beroperasi pada tingkatan sadar (conscious level) yang dapat membedakan dunia luar melalui indera dan yang bertindak sebagai mediator antara tuntutan tuntutan dari lingkungan dengan kebutuhan kebutuhan dari dalam (self), serta yang mengembangkan perilaku untuk menghadapi masalah (coping behaviour) yang sangat diperlukan untuk menciptakan keseimbangan antara tuntutan tuntutan dari lingkungan dan dari dalam diri manusia tersebut.
2.     FUNGSI SUPEREGO
  • Jika Id dapat kita lihat sebagai kekuatan dasar yang mendorong dan yang mengarahkan sebagai kekuatan dasar yang mendorong dan yang mengarahkan orang kepada tindakan dan pencapaian, maka superego berkembang sebagai hasil dari tekanan tekanan sosial dari luar (external).
  • Superego member petunjuk kepada orang mengenai apa yang dianggap dan dipaksakan kepada orang mengenai apa yang dianggap dan dipaksakan oleh masyarakat sebagai yang benar”atau yang salah”.
  • Superego bekerja untuk mengontrol expresi kebutuhan kebutuhan dan dorongan primitive di dalam diri seseorang.
  • Superego juga berfungsi memberikan batasan mengenai apa yang dianggap sebagai pelampiasan energy yang dapat diterima serta berusaha untuk menyalurkannya dengan cara cara yang tidak membahayakan orang yang bersangkutan maupun orang-orang lain.
  • Superego yang terlampau ketat berarti menghambat tindakan dan pencapaian serta mengekang pelampiasan dorongan dorongan primitive seseorang.
3.      EGO
  •  Peranan ego dalam keberfungsian seorang individu sangatlah penting dipahami oleh mereka yang pekerjaanya membantu kelayan meningkatkan kemampuanya demi kehidupan atau keberfungsian sosialan yang baik.
  •   Agar dapat mencapai keberfungsian sosial yang baik seseorang harus berusaha untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan kebutuhan, keinginan keinginan serta harapan harapannya di satu pihak dengan tuntutan tuntutan serta kesempatan kesempatan di dalam masyarakat di pihak lain.
  • Untuk dapat membantu kelayan mencapai keseimbangan seperti itu, pekerja sosial memahami dan memiliki kompetensi dengan kelayan baik secara perorangan maupun kelompok.
Berikut  ini akan dicoba menggambarkan bagaimana sebenarnya konsep tripartite personality ini bekerja.
Ego pada dasarnya merupakan aspek kepribadian yang berorientasi kepada kenyataan (reality oriented aspect) yang memungkinkan seseorang untuk melihat lingkunganya secara realistic serta mencapai keseimbangan antara kebutuhan kebutuhan pribadi dengan tuntutan tuntutan serta kesempatan yang tersedia dan diperbolehkan di dalam lingkungannya
Proses diatas melalui 4 langkah , yakni:
·                    PERSEPSI
  •   Berkaitan dengan pemahaman yaitu bagaimana sesuatu realita dimengerti oleh yang bersangkutan, sutau kenyataan hanya bias diamati melalui penglihatan orang yang bersangkutan dalam pengertian yang berkaitan dengan diri sendiri dan kebutuhan kebutuhannya.
  • Pemahaman kenyataan setiap orang berbeda beda, artinya ketika beberapa orang melihat sesuatu maka pemahaman setiap orang akan berbeda beda dan masing masing memiliki kenyakinan atas apa yang dilihatnya.
  • Kaitanya dengan pekerja sosial maka kita harus  mampu memperbaiki kekeliruan persepsi sendiri kemudian baru kita berusaha memahami bagaimana kelayan melihat situasi baru kita berusaha memahami bagaimana kelayan melihat situasi yang dihadapinya.
  • Pada hakekatnya pengamatan orang terhadap kenyataan dipengaruhi oleh pengetahuanya mengenai kenyataan tersebut, oleh penyakit atau kecacatan, oleh gangguan emosional, oleh pengalaman pengalaman masa lampau, serta oleh setiap tekanan tekanan pribadi maupun sosial yang mewarnai kejelasan dan realisme seseorang.
·                    INTEGRASI, Fungsi pengintergrasian bukan hanya terhadap persepsi mengenai kenyataan dalam pengertian apa arti kenyataan tersebut bagi orang yang bersangkutan, melainkan juga pengintergrasian mengenai apa yang diperlukan bagi penyesuaian diri atau adaptasi agar orang tersebut dapat hidup atau agar ia dapat mengubah kenyataan tersebut
·                    ADAPTASI
  • Adaptasi yang didasarkan pada kedua langkah sebelumnya ditambah dengan langkah terakhir yaitu eksekusi atau pelaksanaan. Kita telah memiliki persepsi mengenai kenyataan menurut apa artinya kenyataan itu bagi kita masing masing, kita telah memilih cara cara dengan kemampuan pikir dan perasaan serta kebutuhan kebutuhan kita masing masing, dan kemudian kita mengadop itu semua sebagai cara kita masing masing dalam bertindak menghadapi kenyataan tersebut.
  • Mungkin adaptasi yang diadop seseorang dianggap atau tampak kurang masuk akal atau kurang dapat diterima oleh orang lain yang mengamatinya, akan tetapi bagi orang yang bersangkutan apa yang dilakukanya itu mungkin dianggap dan dirasakan logis baginya dan merupakan satu satunya jalan yang dapat ditempuhnya dalam situasi seperti itu.
  • Bagi seseorang agar dapat melakukan adaptasi yang baru (berbeda) diperlukan factor factor baru yang berbeda. Ini mutlak harus dapat dicamkan oleh setiap orang yang bertugas sebagai  pelayanan kemanusian, sebab hal ini menjelaskan apa yang sering secara serampangan kita sebut sebagai perilaku yang “ irrasional”atau “tak masuk akal”
·                    EKSEKUSI, ksekusi adalah pelaksanaan dari ke tiga tahap diatas, dimana dalam pelaksaan ini sangat dipengaruhi oleh afeksi dan kofnitif manusia.
Masih menjadi pertanyaan keseluruhan proses berfunginya ego melalui persepsi, integrasi, adaptasi  dan eksekusi itu berjalan melalui tingkatan kesadaran atau ketak sadaran. Yang jelas ialah bahwa pengaruh pengaruh tak sadar dari perasaan persaan dan pengalaman pengalaman masa lalu, dorongan impuls impuls id, dan tekanan tekanan super ego yang telah diinternalisasikan merupakan factor factor dominan bagi kemampuan adaptasi seseorang.
Namun itu semua merupakan totalitas dan individu orang yang bersangkutan, sebab kita juga merupakan mahluk yang berpikir dan berpengetahuan dan ini juga merupakan aspek penting dari diri kita.
Dalam rati luas, ego adapat dipandang sebagai berfungsi sebagai akibat dari bekerjanya factor factor kesadaran dan ketak sadaran yang berkombinasi untuk menentukan adaptasi dan gaya hidup seseorang.
Setiap aspek keberfungsian ego menyangkut unsure unsure kognitif maupun afektif.
Agaknya sulit untuk memisahkan antara konstribusi dari aspek aspek rasional (kognitif) dengan aspek aspek emosional (afektif) ini, akan tetapi sebagai pekerja sosial atau orang yang bertugas di bidang pelayanan kemanusian hendaknya memandangnya sebagai bagian dari semua aspek keberfungsian manusia yang harus kita perhatikan dalam proses menolong orang.
Biasanya kita merespon atau bereaksi terhadap suatu situasi permasalahan berdasarkan pengalaman pengalaamn yang pernah kita peroleh di masa lampau, baru kita dapat mengatasi aspek aspek emosional yang menyebabkan kita takut, marah, atau terharuy, maka kita dapat memahami situasi tersebut secara intelektual dan menyusun cara cara yang lebih memadai untuk menghadapi situasi yang baru tersebut.
Sumber :
ACHLIS, 1993,”STUDI PERILAKU DAN LINGKUNGAN SOSIAL MANUSIA (HBSE), KOPMA-Bandung
Bahan bahan kuliah HBSE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar