Selasa, 14 Juni 2016

PROPOSAL PENELITIAN PENDAYAGUNAAN KELOMPOK


 Pendayagunaan Kelompok  Bhakti Ibu   Dalam Pengentasan
Kemiskinan  Di Kelurahan Babakan Ciamis
Kecamatan Sumur Bandung
Propinsi Jawa Barat

  1. Masalah Latar Belakang
Kemiskinan merupakan kondisi yang tidak menyenangkan yang dialami oleh seseorang yang mengakibatkan seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya yang berupa sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan juga mengakibatkan seseorang atau kelompok masyarakat tidak mampu mengakses sistem sumber yang ada di sekitar wilayah dimana mereka tinggal, baik sumber internal maupun sumber eksternal. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia diakibatkan oleh krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 dan kemiskinan di Indonesia merpakan kemiskinan yang bersifat multidemensial.
Menurut Lembaga penelitian SMERU jumlah penduduk miskin di Pulau Jawa dan Bali pada tahun 1993 sebanyak 6.383 pada tahun 2003 sebanyak 8.447 dan pada tahun 2009 sebanyak 8.176, kemiskinan yang diteliti ini adalah kemiskinan di perdesaan dan perkotaan dan dari data tersebut diperoleh  data bahwa kemiskinan di perdesaan mengalami penurunan sedangkan di perkotan mengalami peningkatan dan dapat dijelaskan sbb:
Kemiskinan diperkotaan disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya adalah: 1) Ketidakberdayaan, penyebabnya adalah  kurangnya lapangan kerja biaya hidup tinggi dan kodrat atau takdir persoalan yang timbul adalah tingginya biaya pendidikan pengannguran harga sembako mahal kurangnya lapangan kerja dan kesulitan memenuhi kebutuhan harian 2) Keterkucilan penyebabnya adalah pendidikan kurang dan kurangnya keahlian dan persoalan yang timbul adalah sarana transportasi sulit kuranng ketrampilan dan akses kridit, 3) Kemiskinan Materi, penyebabnya adalah kurangnya/tidak ada modal penghasilan rendah dan anggota keluarga banyak .Persoalan yang timbul adalah tidak punya modal pendapatan rendah, perumahan dan lingkungan 4) Kerentanan, penyebabnya adalah PHK dan masalah usaha dan masalah yang timbul adalah putus sekolah dan bencana alam 5) Sikap penyebanya adalah kurang berusaha dan persoalan yang timbul adalah keluarga tidak harmonis dan kenakalan remaja.
Dampak kemiskinan di perkotaan adalah kesulitan memenuhi kebutuhan makan, kesulitan membiyai pendidikan, kesulitan mencari nafkah, putus sekolah kesulitan biaya pengobatan, kesulitan memenuhi kebutuhan perumahan, keterkucilan, kesulitan modal, pekerja anak, hidup susah, ketidaktenangan, kriminalitas meningkat dan terlilit hutang.
Sedangkan menurut BPS, Rumah Tangga Miskin (RTM) di Kota Bandung tercatat 62.400 keluarga (jika setiap keluarga rata-rata 4 jiwa, jumlahnya sekitar 249.600 jiwa). Padahal  peserta Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) mencapai 340.000 jiwa. Belum termasuk warga miskin yang mendapatkan Surat Keterangan Miskin (SKM). (A-170)
Sedangkan penduduk miskin di Kota Bandung pada tahun 2009 adalah 11,96% dari jumlah penduduk sebesar 42 juta jiwa dengan jumlah angkatan kerja sebesar 18,89% dan pada tahun 2010 jumlah penduduk Bandung adalah 43 juta jiwa sedangkan  penduduk miskin sebesar 11,27 % sedang angkatan kerja adalah 18.98%. Perurunan ini terjadi di desa sedangkan di perkotaan justru mengalami kenaikan (Kompas, 03 Mei 2011)
Menurut harian Pos Kota tertanggal 10 April 2011 jumlah orang miskin di Kota Bandung adalah 3,2 juta dari jumlah penduduk 4,3 juta sedangkan yang dapat dijangkau hanya sejumlah 250 ribu warga dan dana pengentasan kemiskinan diperoleh dari APBD sebesar 62 milliar dan dana APBN sebesar 8 milliar.
Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai program dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan masalah kemiskinan dan kesenjangan pembangunan akan tetap menjadi agenda utama pemerintah. Dari tahun ke tahun, pemerintah selalu mencanangkan upaya penanggulangan kemiskinan antara lain, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tahun ini, dana yang dialokasikan untuk PNPM mencapai Rp 13 triliun yang akan disalurkan ke 6000 kecamatan lebih. Pada tahun yang sama, telah disiapkan dana program KUR sebesar Rp 100 triliun untuk membantu pembiayaan usaha kecil yang merupakan 98,9% entitas bisnis di Indonesia.
Selain itu, berbagai usaha pengentasan kemiskinan oleh berbagai pemangku kepentingan telah meningkat dari waktu ke waktu. Namun demikian upaya tersebut masih jauh dari yang diharapkan apabila dibandingkan dengan populasi yang jauh lebih besar jumlah dan sebarannya. Kementerian Sosial turut menangani masalah kemiskinan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) yang ditujukan kepada program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Kelompok Usaka Bersama (KUBE), yang pada tahun 2010 diberikan kepada 127.930 KK dengan total anggaran pemberdayaan fakir miskin sebesar Rp 431.797.100.000.
Program-program pengentasan kemiskinan tersebur sebenarnya relah  juga telah dirasakan maanfaatnya oleh masyarakat Kelurahan Babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung akan tetapi karena  kurangnya kemampuan masyarakat dalam mengakses sistem sumber diatas maka membuat masyarakat tidak mampu memanfaatkannya secara maksimal terutama dalam mengakses sistem sumber yang terkait dengan  modal (keuangan) sehingga mengakibatkan masyarakatan kesulitan dalam mengembangankan modal khususnya yang berkaitan dengan modal dagang untuk para pedagang informal.
Kelurahan Babakan Ciamis. Di Kelurahan Babakan Ciamis jumlah  keluarga miskin adalah 2.021 kepala keluarga dan terdapat  keluarga miskin sebanyak 339 atau 16.77% dan tersebar di 9 rukun warga dan 43 rukun tetangga  dan dapat dijelaskan dalam tabel  berikut :
Wilayah RW 01 memiliki oleh  360 kepala keluarga dan terdapat 36 kepala keluarga miskin, RW 02 memiliki 235 kepala keluarga dan terdapat 77 kepala keluarga miskin, RW 03 memiliki 320 kepala keluarga dan terdapat 100 kepala keluarga miskin, RW 04 memiliki 360 kepala keluarga dan terdapat 4 keluarga miskin, RW 05 memiliki 141 kepala kelurga dan tidak terdapat kepala keluarga miskin, RW.06 memiliki kepala keluarga dan terdapat 6 keapala keluarga miskin, RW 07 memili 329 kepala keluarga dan terdapat 45 kepala keluarga miskin, RW 08 memiliki 316 kepala keluarga dan terdapat 71 kepala keluarga miskin.
Dengan demikian  berdasarkan data tersebut kepala keluarga miskin banyak terdapat di wilayah RW 03 dengan jumlah  67 kepala keluarga miskin, tempat ke dua oleh wilayah RW 02 dengan terdapat 77 kepala keluarga miskin dan tempat ke tiga oleh RW 08 dengan terdapat 71 kepala kelarga miskin. Ke tiga RW ini dapat dikatakan golongan wilayah terbesar yang memiliki keluarga miskin.
Pada kegiatan pratikum terdahulu peneliti telah mengambil lokasi di wilayah Kelurahan Babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung khususnya  kemiskinan di RW 03 dan dapat dijelaskan sbb:
1.             RW 03 memiliki 329 KK dan 100 KK  tergolong miskin.
2.             Rata-rata pekerjaan dari KK miskin adalah pedagang informal yang berjualan dan berdagang di rumah mereka sendiri dan mayoritas adalah kaum perempuan.
3.             Minimnya pendapatan para pedagang informal yang disebabkan oleh modal untuk berdagang relatif sangat kecil sehingga volume dagangan dan jenis dagangan sangat terbatas.
4.             Budaya hidup yang memiliki prinsip “ kumaha engke” yang mengakibatkan malas untuk berusaha yang dalam hal ini terjadi pada para suami yang sudah dilanda frustasi karena selalu gagal mendapatkan pekerjaan dan karena PHK.
5.             Kebiasaan meminjam pada para rentenir dan bang kridit harian yang mengenakan bunga tinggi meskipun diperbolehkan membayar harian.
6.             Keterbatasan mengakses sistem sumber keuangan atau bank dikarenakan tidak memiliki aset yang diperlukan sebagai anggunan sesuai ketentuan dan kriteria dari pihak bank.
7.             Tidak memiliki saudara yang kaya yang diharapkan dapat membantu mereka.
8.             Tidak memiliki warisan keluarga sebab orang tua mereka juga tergolong miskin .
Proses pemberdayaan yang telah dilakukan kepada masayarakat adalah pemberdayaan kepada perempuan sebab mayoritas perempuan menjadi tulang punggung bagi keluarga setempat hal ini disebabkan oleh faktor pengangguran yang ada di wilayah Kelurahan Babakan Ciamis karena PHK  (pemutusan hubungan kerja) dan faktor budaya yakni budaya malas untuk mencari pekerjaan lain atau pekerjaan sampingan.
Proses pemberdayaan dilakukan dengan memanfaatkan aset-aset yang dimiliki masyarakat masyarakat dan melibatkan masyarakat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh mereka.  Adapun asset-aset yang dimiliki masyarakat antara lain adalah :
1.             Adanya kesadaran dari masyarakat untuk memerangi kemiskinan di keluarga mereka.
2.             Adanya keinginan untuk membuat sebuah wadah yang dapat membicarakan masalah-masalah mereka.
3.             Adanya keinginan masyarakat untuk menabung yang dikelola secara bersama-sama.
4.             Adanya keinginan dari masyarakat untuk mengumpulkan modal secara bersama dan dikelola secara bersama-sama.
5.             Adanya persatuan dan kesatuan karena merasa senasib dan sepenanggungan.
6.             Adanya keinginan untuk bebas dari jeratan rentenir.
7.             Adanya tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung dan memfasilitasi keinginan masyarakat.
Pada pratikum yang telah dilakukan oleh peneliti dilakukan dengan asesmen dan dari hasil asesmen diperoleh prioritas masalah tentang kurangnya modal usaha  dan selanjutnya dilanjutnya dengan pembentukan kelompok Bhakti Ibu. 
Alasan pembentukan kelompok ini didasarkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat dan merupakan upaya untuk mengatasi kemiskinan di lingkungan warga setempat. Kelompok Bhakti Ibu terdiri dari para pedagang informal di lingkungan Kelurahan Babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung.
Kelompok Bhakti Ibu bertujuan untuk antara lain sbb:
1.             Sebagai ajang silaturahmi antar warga setempat.
2.             Sebagai wadah aktivitas wanita atau ibu-ibu yang salah satu kegiatannya adalah mengadakan kegiatan simpan pinjam.
3.             Sebagai wadah informasi dan pemberdayaan bagi ibu-ibu
4.             Sebagai media komunikasi antar para ibu dalam menyampaikan aspirasi yang berkaitan dengan permasalahan mereka.
5.             Sebagai media berinteraksi bagi para ibu-ibu
Sampai dengan bulan Pebruari 2011 kegiatan utama kelompok ini untuk sementara menyelenggarakan kegiatan simpan pinjam dengan jumlah anggota sebanyak 25 orang pada bulan Januari 2011  dengan modal sebanyak Rp.800.000,- (delapan ratus ribu rupiah) dan dari modal ini telah dapat dirasakan manfaatnya oleh 8 annggota dengan jumlah pinjaman Rp.100.000,- (seratus ribu rupia) .

  1. Fokus Penelitian
Berdasarkan aset-aset yang dimiliki oleh masyarakat setempat tentunya masyarakat juga memiliki kebutuhan-kebuhan yang harus dipenuhi dan untuk memenuhi kebutuhan-kebuhan masyarakat maka dilakukan kegiatan pemberdayaan dan hal ini  bertujuan untuk pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu  di Kelurahan Babakan Ciamis, sehingga mereka memiliki kemampuan dan kekuatan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, kemampuan dalam menjangkau sumber-sumber produktif serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.
Selanjutnya untuk mengetahui lebih dalam tentang dampak pemberdayaan masyarakat terhadap kapasitas warga miskin dalam pendayagunaan kelompok maka pertanyaan penelitian yang diajukan adalah : "Bagaimana Kegiatan Pendayagunaan Kelompok Bhakti Ibu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan  Di Kelurahan Babakan Ciamis?”. Untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian tersebut diajukan beberapa sub problematik sebagai berikut :
1.             Bagaimana  karakteristik kelompok Bhakti Ibu ?
2.             Bagaimana penyelengaraan program/kegiatan kelompok Bhakti Ibu?
3.             Bagaimana  permasalahan dan kebutuhan kelompok Bhakti Ibu ?
4.             Bagaimana rencana kegiatan pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu ?
5.             Bagaimana implementasi kegiatan pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu ?
6.             Bagaimana hasil implementasi kegiatan pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu ?
7.             Bagaimana penyempurnaan atau kegiatan akhir pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu?

  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini secara umum untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara praktis dan mengetahui  pemberdayaan masyarakat RW 03 Kelurahan Babakan Ciamis..
Tujuan penelitian ini adalah :
1.             Mengetahui dan memahami bagaimana gambaran karakteristik kelompok Bhakti Ibu
2.             Mengetahui dan memahami bagaimana penyelenggaran/ kegiatan kelompok Bhakti Ibu  
3.             Mengetahui dan memahami permasalahan dan kebutuhan kelompok Bhakti Ibu.
4.             Mengetahui dan memahami rencana kegiatan pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu
5.             Mengetahui dan memahami implementasi krgiatan pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu
6.             Mengetahui dan memahami hasil implementasi kegiatan pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu
7.             Mengetahui dan memahami penyempurnaan atau kegiatan akhir pendayagunaan kelompok Bhakti Ibu
Manfaat penelitian adalah :
1.             Secara teoritis penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terutama terkait dengan kegiaatan pendayagunaan kelompok dalam upaya intervensi pengentasan kemiskinan.
2.             Secara praktis hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pemerintah setempat dalam upaya menjalankan program, pengentasan kemiskinan di wilayahnya.
  1. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Kegiatan penelitian ini secara umum dibatasi pada ruang lingkup dan cakupan kegiatan keluarga miskin di masyarakat Kelurahan Babakan Ciamis yang meliputi bagaimana masyarakat dalam menjangkau sumber yang dapay dimanfaatkan untuk pendayagunaan kelompok, kemampuan masyarakat dalam mengembangkan pendayagunaan kelompok, dan bagaimana masyarakat memperluas jaringan dalam upaya menjangkau sumber yang terkait dengan pendayagunaan kelompok, bagaimana masyarakat menjalankan organisasi yang baru terbentuk, dan bagaimana upaya masyarakat dalam meningkatkan pendapatannya. Pembatasan ini perlu dilakukan oleh peneliti supaya penelitian dapat dilakukan secara lebih mendalam, selain itu juga mengingat adanya keterbatasan peneliti pada waktu, kemampuan dana, penguasaan teori serta pengalaman dalam kegiatan penelitian ini.
  1. Kajian Pustaka.
Pendayagunaan memiliki arti yang sama dengan pemberdayaan atau pemberian kekuasaan kepada pihak yang lemah agar memiliki kekuasaan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dan senada dengan hal ini dapat dikutip dari pendapat dari Agustinus Sulistya (LAN. 2010:3) sebagai berikut :
“pendayagunaan atau pemberdayaan mengandung makna adanya perubahan pada diri seseorang dari tidak mampu menjadi mampu dan dari tidak memiliki kewenangan menjadi memiliki kewenagan dan dari tidak bertanggung jawab menjadi bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dikerjakan”
Sedangkan menurut kamus besar bahasa  Indonesia  (1998:189) yang dimaksud dengan pendayagunaan adalah segala sesuatu yang mendatang hasil.
Berkaitan dengan hal diatas maka yang dimaksud dengan pendayagunaan adalah pemberdayaan yang memiliki arti sebagai pemberian kekuasaan atau wewenang kepada pihak yang lemah agar supaya pihak yang lemah dapat berdaya mengatasi persalahan yang mereka hadapi secara optimal  dengan menggunakan kekuatan-kekuatan yang mereka miliki.
1.      Tinjauan Tentang Pemberdayaan
Pemberdayaan memiliki dua kecenderungan, antara lain : pertama, kecenderungan primer, yaitu kecenderungan proses yang memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan (power) kepada masyarakat atau individu menjadi lebih berdaya. Proses ini dapat dilengkapi pula dengan upaya membangun asset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi
   Kedua, kecenderungan sekunder, yaitu kecenderungan yang menekankan pada proses memberikan stimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog. Dua kecenderungan tersebut memberikan (pada titik ekstrem) seolah berseberangan, namun seringkali untuk mewujudkan kecenderungan primer harus melalui kecenderungan sekunder terlebih dahulu.
Beberapa pandangan tentang pemberdayaan masyarakat, antara lain sebagai berikut: (Ife, 1996:59)
a)             Struktural, pemberdayaan merupakan upaya pembebasan, transformasi structural secara fundamental, dan eliminasi struktural atau sistem yang operesif.
b)             Pluralis, pemberdayaan sebagai upaya meningkatkan daya sesorang atau sekelompok orang untuk dapat bersaing dengan kelompok lain dalam suatu ’rule of the game’ tertentu.
c)             Elitis, pemberdayaan sebagai upaya mempengaruhi elit, membentuk aliniasi dengan elit-elit tersebut, serta berusaha melakukan perubahan terhadap praktek-praktek dan struktur yang elitis.
d)            Post-Strukturalis, pemberdayaan merupakan upaya mengubah diskursus serta menghargai subyektivitas dalam pemahaman realitas sosial.
   Hakikat dari konseptualisasi empowerment berpusat pada manusia dan kemanusiaan, dengan kata lain manusia dan kemanusiaan sebagai tolok ukur normatif, struktural, dan substansial. Dengan demikian konsep pemberdayaan sebagai upaya membangun eksistensi pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, pemerintah, negara, dan tata dunia di dalam kerangka proses aktualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab. Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial.

a.                                                                                                                   Definisi Pemberdayaan
  Pemberdayaan adalah suatu cara dengan mana rakyat mampu menguasai (berkuasa atas) kehidupannya (Suharto,1997:215). Selanjutnya Craig dan Mayo dalam Huraira (2006) mengatakan bahwa konsep pemberdayaan termasuk dalam pengembangan masyarakat dan terkait dengan konsep-konsep : kemandirian (self help), partisipasi (participation), jaringan kerja (networking), dan pemerataan (equty).
Selanjutnya pemberdayaan menurut Suharto (2005) menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam :
1)        Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom, dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan)
2)        Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan.
3)        Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.

b.                                                                                                                   Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat
  Pendekatan konvensional ini ditandai oleh transplantatifplanning, top down, inductive, capital intensive, west-biased technological transfer, dan sejenisnya. Beberapa paradigma pendekatan pembangunan mulai mengalami pergeseran dari yang konvensional menuju pembangunan alternatif, yaitu :
1)      Pembangunan wilayah (regional development)
2) Pembangunan berwawasan lingkungan (environmental  development).
3) Pembangunan berbasis komunitas (community-based development).
4) Pembangunan berpusat pada rakyat (people-centered development).
5)     Pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
6) Pembangunan berbasis kelembagaan (institution-based development).
c.                                                                                                                    Prinsip Pemberdayaan Masyarakat
Dubois dan Miley (1992), memberi beberapa prinsip yang dapat menjadi pedoman dalam pemberdayaan masyarakat :
·           Membangun relasi pertolongan
·           Membangun komunikasi
·           Terlibat dalam pemecahan masalah
·           Merefleksikan sikap dan nilai profesi pekerjaan social
d.                                                                                                                   Indikator Keberdayaan
Sebagaimana Kieffer dalam Suharto (2006:63), pemberdayaan mencakup tiga dimensi yang meliputi kompetensi kerakyatan, kemampuan sosiopolitik, dan kompetensi partisipatif. Selanjutnya, Parsons juga mengajukan tiga dimensi pemberdayaan yang merujuk pada :
1)         Sebuah proses pembangunan yang bermula dari pertumbuhan individual berkembang menjadi sebuah perubahan sosial yang lebih besar.
2)        Sebuah keadaan psikologis yang ditandai oleh rasa percaya diri, berguna dan mampu mengendalikan diri dan orang lain.
3)        Pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial, yang dimulai dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah dan kemudian melibatkan upaya-upaya kolektif dari orang-orang lemah tersebut untuk memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur-struktur yang masih menekan.
e.                                                                                                                    Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Dalam konteks pekerjaan sosial, pemberdayaan dapat dilakukan melalui tiga aras atau matra pemberdayaan, antara lain  mikro, mezzo, dan makro (Suharto, 2005:66-67) :
1)           Aras mikro. Pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara ndividu melalui bimbingan, konseling, stress management, dan crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya.
2)          Aras Mezzo. Pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi.
3)          Aras Makro. Pendekatan ini disebut juga sebagai startegi sistem besar (large system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbyng, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini.
f.                                                                                                                          Mekanisme Pemberdayaan Masyarakat
  Seperti dikemukakan di atas, pemberdayaan masyarakat harus melibatkan segenap potensi yang ada dalam masyarakat. Beberapa aspek di antaranya dapat diketengahkan sebagai berikut: Peranan pemerintah teramat penting. Berarti birokrasi pemerintah harus dapat menyesuaikan dengan misi ini. Dalam rangka ini ada beberapa upaya yang harus dilakukan:
2)            Birokrasi harus memahami aspirasi rakyat dan harus peka terhadap masalah yang dihadapi oleh rakyat.
3)            Birokrasi harus membangun partisipasi rakyat. Artinya, berilah sebanyak-banyaknya kepercayaan pada rakyat untuk memperbaiki dirinya sendiri. Aparat pemerintah membantu memecahkan masalah yang tidak dapat diatasi oleh masyarakat sendiri.
4)            Untuk itu maka birokrasi harus menyiapkan masyarakat dengan sebaiknya, baik pengetahuannya maupun cara bekerjanya, agar upaya pemberdayaan masyarakat dapat efektif. Ini merupakan bagian dari upaya pendidikan sosial untuk memungkinkan rakyat membangun dengan kemandirian.
5)            Birokrasi harus membuka dialog dengan masyarakat. Keterbukaan dan konsultasi ini amat perlu untuk meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat, dan agar aparat dapat segera membantu jika ada masalah yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh rakyat.
6)             Birokrasi harus membuka jalur informasi dan akses yang diperlukan oleh masyarakat yang tidak dapat diperolehnya sendiri.
7)            Birokrasi harus menciptakan instrumen peraturan dan pengaturan mekanisme pasar yang memihak golongan masyarakat yang lemah.
2.         Tinjuan Tentang Kelompok
a.                  Pengertian Kelompok
Kelompok dalam pengertian di sini adalah kelompok Bhakti Ibu     yang memiliki masalah kurangnya modal usaha di kalangan para pedagang informal dan sehubungan dengan pengertian tentang kelompok maka dapat dikaitkan dengan pendapat dari beberapa ahli diantaranya adalah :
Pendapat dari Sopiah (2008:25) yang mengatakan bahwa “ kelompok sebagai individu atau lebih yang berinteraksi dengan saling bergantung yang saling bergabung untuk mencapai sasaran sasaran tertentu”
Pengertian diatas dapat diartikan bahwa berkumpulnya dua orang atau lebih di suatu tempat yang mengadakan hubungan timbal balik disebut dengan kelompok, hubungan timbal balik dapat berupa kerjasama saling menguntungkan, saling memberi dan menerima, saling mengungkapkan pendapat, saling menghargai perbedaan-perbedaan yang ada, saling menghormati satu sama lain, saling memiliki kesamaan misi/tujuan dalam proses pencapaian tujuan.
Kurt Lewin yang dikutip oleh  Slamet Santoso (1992:4) pengertian kelompok adalah : “Tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh kelompok yang menjadi anggotanya”
 Kelompok akan dapat memperngaruhi tingkah laku individu anggota kelompok yang mengarahkan invidu kepada keinginan memiliki kekuasan atau dapat membawa pengaruh lebih dari orang lain, tujuan pribadi  baik yang positip maupun yang negatif dan status yang dianggap sebagai hal yang  bersifat perstise dianggap dapat menaikkan gengsi seseorang, masing–masing dari individu berbeda merespon hal ini, kelompok yang demikian akan mencerminkan ciri khas sendiri yang tidak sama dengan kelompok lain.
Kelompok dapat juga diidentikkan sebagai sebuah organisasi sebab dalam kelompok terdiri dari beberapa orang yang memiliki solidaritas dan tujuan yang sama. Kelompok yang dimaksud dapat berupa kelompok formal maupun informal (lokal) tergantung dari kebutuhan masyarakat setempat dan dengan bergabung dengan kelompok maka setiap anggota dapat menyampaikan aspirasi dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidupnya seperti kebutuhan sosial, ekonomi, kesehatan dan sangat mungkin juga kebutuhan pendidikan.
  Senada dengan hal ini Suharto (1997:335) berpendapat tentang organisasi lokal sbb:
“ organisasi lokal adalah lembaga kelompok atau organisasi yang ada dan terlibat dengan pembangunan di tingkat lokal (setempat) misalnya di desa/kelurahan atau unit unit kecil seperti kampung atau RW yang dibentuk secara sukarela dan mewakili kepentingan para anggotanya dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya baik dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan”

b.                 Tugas dan Fungsi Kelompok
Pendapat dari Iwan Purnawan ( 2010) tentang tugas dan fungsi  kelompok sosial sbb:
“ tugas dan fungsi kelompok sosial adalah : 1) membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam  mengatasi persoalan hidup; 2) memudahkan pekerjaan; 3) mengatasi pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai secara efektif dan efesien; 4) Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat”
Senada dengan pendapat diatas dapat diselaraskan dengan pendapat dari Prima Suci (2009)  tentang fungsi  kelompok sbb:
“fungsi kelompok antara lain adalah: 1) Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup karena, bagaimanapun manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain; 2) Memudahkan segala pekerjaan, karena banyak pekerjaan yang tidak dapat dilaksanakan tanpa bantuan orang lain; 3) Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat, efektif dan efesian  karena pekerjaan besar dibagi-bagi sesuai bagian kelompoknya masing-masing/sesuai keahlian; 4) Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat, karena setiap individu bisa memberikan masukan dan berinteraksi dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat.

c.                  Proses Terbentuknya Kelompok
Mengacu pada pendapat  Danim (2004:146-147) tentang proses pembentukan kelompok sbb:
“ proses pembentukan kelompok memiliki seperangkat nilai penting dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Nilai-nilai yang terkandung di dalam proses kelompok anatara lain:
1)             Membangun moral kelompok yang tergabung dalam satu wadah kerjasama.
Proses kelompok dapat menciptakan kepuasan dan dengan demikian akan meningkatkan moral atau menggairahkan kerja individu di dalam kelompok. Kegairahan kerja yang dimaksudkan adalah kelompok merasa sadar bahwa karena interaksi antar mereka mampu menciptakan prakarsa prakarsa kritis. Di dalam diri individu ada dorongan bekerja dan hal itu antara lain muncul karena rasa penghargaan kelompok
2)             Membangun sifat-sifat kepemimpinan
Kepemimpinan selalu merupakan interaksi antara manusia dan akrenya proses kelompok dapat menciptakan sifat sifat kepemimpinan yang diinginkan. Sifat sifat kepemimpinan ini muncul antara lain sebagai akibat adanya proses interaksi antar individu, rasa kebersamaan dan saling memperngaruhi, proses pengalihan tugas, peniruan peniruan, pembinaan mental dll
3)             Pencapaian nilai-nilai kepemimpinan
Kelompok kerja atau individu di dalam organisasi laksana satu kesebelasan sepakbola, satu sama lain mempunyai peran berbeda. Perbedaab itu membentuk kesebelasan yang kuat dan dapat meraih medali dalam satu pertandingan. Demikian juga manusia dalam organisasi, pencapaian tujuan organisasi secara tepat, cepat dan bermutu bergantung kepada proses kerja kelompok, karena satu sama lain akan membantu atau bekerjasama. Dari kerjasama itulah tujuan organisasi akan tercapai.
4)             Delegasi tugas dalam proses pembuatan keputusan
Tanggung jawab organisasi bukan semata-mata ada ditangan manajemen saja melainkan juga terletak pada semua anggota. Pada umumnya manajer atau pimpinan terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya, baik yang bersifat rutin maupun organic. Dengan proses ini pulalah proses pembuatan keputusan, kebijakan-kebijakan atau tindakan-tindakan dapat dilakukan melalui proses delegasi tugas-tugas

Menurut Tickman yang  dikutip oleh Indrajaya (2002:94) tentang pembentukan kelompok adalah sbb :
“seseorang memasuki kelompok disebabkan adanya dorongan untuk melakukan penilaian terhadap dirinya dan pembentukan kelompok sbb:
1)      Tahap pembentukan kelompok (forming), tahap seseorang melakukan beberapa pengujian terhadap anggota lainnya tentang hubungan perseorangan yang dikendaki kelompok. Bersamaan dengan tindakan pengujian dan percobaan tersebut para anggotanya mulai menciptakan pola pola hubungan dengan pimpinan, rekan sekerja, aturan permainan dan norma norma kelompok.
2)      Tahap pancaroba (storing), dimulainya konflik dalam kelompok, tahap dimana kelompok mulai menampilkan pribadinya masing-masing. Anggota yang lain mulai ekslosif terhadap anggota lain bahkan terhadap pimpinan kelompok.
3)      Tahap pembentukan norma (norming), makin terbukanya anggota kelompok masing masing menjadi lebih mengenal dengan keadaan sesungguhnya dan anggota yang lain dan disini muncul perasaan dan pengembangan kelompok.
4)      Tahap berprestasi (performing), hubungan orang perseorangan berperan sebagai alat melaksanakan pekerjaan, peranan seseorang semakin luwes dan menonjol, makin fungsional karena setiap anggota mulai berkeinginan untuk membantu yang lain dan masing masing ingin melaksanakan dengan sebaik baiknya.

d.                 Alasan Berkelompok
Menurut Wahyono (2010:142) ada beberapa alasan manusia berkumpul adalah sbb:
1)      Alasan keamanan,  dengan bergabung dengan kelompok seseorang dapat mengurangi ketidakamanan dalam kesendirian. Banyak orang merasa lebih kuat dan tidak ragu ragu manakala berada dalam kelompok.
2)      Alasan status, dengan bergabung dalam kelompok, seseorang merasa lebih dipandang dan lebih terhormat disbanding sendirian.
3)      Harga diri, karena merasa merasa terhormat dalam kelompok maka seseorang merasa memiliki harga diri.
4)      Kebutuhan bersosialisasi (afiliasi), banyak kebutuhan social bias didapatkan saat seseorang berkelompok. Suasana bersahabat saat kesusahan, kesakitan, dan saat dilanda bencana seseorang akan lebih mudah mendapatkan pertolongan dari orang atau pihak saat seseorang berkelompok.
5)      Membangun kekuatan, banyak hal tidak dicapai secara individual karena dengan berkelompok akan memudahkan membangun kekuatan untuk meraih sesuatu yang besar.
6)      Mencapai tujuan, karena berkelompok memunculkan kekuatan maka tentu saja akan memudahkan pencapaian tujuan.





e.                  Dinamika Kelompok
Menurut Slamet Santoso (2004:7) bahwa yang dimaksud dengan dinamika kelompok adalah sbb:
“berbagai pihak menyadari pentingnya mempelajari dinamika kelompok karena beberapa alasan : 1) individu tidak mungkin hidup sendiri di dalam masyarakat; 2) individu tidak dapat berkarya sendiri dalam memenuhi kebutuhannya; 3) dalam masyarakat yang besar perlu adanya pembagian kerja agar pekerjaan dapat terlaksana dengan baik. Hal ini dapat terlaksana apabila dikerjakan dalam kelompok keci; 4) masyarakat yang demokratis dapat berjalan baik apabila lembaga social dapat bekerja dengan efektif; 5) semakin banyak diakui manfaat dan penyelidikan yang ditujukan kepada kelompok-kelompok”

f.                   Kepemimpinan Kelompok
Menurut pendapat dari Max Weber (2004:46) mengatakan bahwa
“ ada tiga tipe kepemmipinan yakni 1) kepemimpinan karismatik, suatu bentuk kepempimpinan yang diangkat berdasarkan kepercayaan yang dating dari lingkunganya; 2) kepemimpinan tradisional, suatu bentuk kepemimpinan yang pimpinannya diangkat atas dasar tradisi yang berlaku pada masyarakat; 3) kepemimpinan yang rasional, suatu bentuk kepemimpinan yang diangkat atas dasar pertimbangan pemikiran tertentu dan penunjukan langsung”
g.                  Motivasi Kelompok dan Produkrivitas
Denim Sudarwan (2004:141) mengatakan bahwa : “Upaya merangsang efektivitas kelompok akan dapat dicapai jika setiap anggota mengerjakan tugas kelompok secara bersama sama dan perilaku pimpinan mempunyai pengaruh terhadap produktivitas kelompok. Pada intinya aksentuasi dari motivasi yang ditimbulkan oleh hubungan sinergis di antara sesame mereka. Tugas pemimpin adalah menggerakkan anggota supaya menerima tujuan kelompok sebagai tujuan bersama. “
h.                 Motivasi Kelompok dan Partisipasi
Persahabatan dalam kelompok sangat potensial menimbulkan kebahagian anggota elompok itu meski kebahagian sangat mungkin tidak secara tidak langsung berkorelasi dengan produktivitas dalam kaitan ini menurut Kelly dan Thibaut (2004:142) mengatakan ada dua kemungkinan yang akan muncul yakni sbb:
“ Pertama: perubahan yang terbuka akan mengurangi rasa terpaksa dalam partisipasi, mempertinggi intensitas hubungan dan dengandemikian akan mempertinggi efektivitas kelompok, Ke dua: hubungan perubahan yang terbuka dapat juga menghambat tugas kelompok, mengurangi keketatan rahasia dan akibatnya produktivitas kelompok dapat  menurun karena itu baik buruknya persahabatan ditentukan oleh kwalitas pemimpinannya dan jenis tujuan yang telah disepakati bersama”

i.                    Macam Macam Kelompok
Menurut  Charles.H.Cooley membagi kelompok menjadi :
5)                  Kelompok primer artinya suatu kelompok yang anggota anggotanya mempunyai hubungan/interaksi yang lebih itensif dan lebih erat antar anggotanya
6)                  Kelompok sekunder artinya suatu kelompok yang anggotanya saling mengadakan hubungan yang tidak langsung, berjauhan, formal dan kurang bersifat kekeluargaan.

  1. Metode Penelitian
1.             Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan pada latar alamiah. Fenomena sosial dalam pandangan kualitatif dipandang sebagai sesuatu yang tidak berdiri sendiri, bersifat dinamis dan penuh makna (Sugiyono: 2005).
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian permasalahan tertentu dan membantu praktisi dalam memperbaiki tugas-tugasnya (Alston: 1998; Neuman : 2000). Selain itu dalam upaya untuk lebih memahami tentang Penelitian tindakan Eliot dalam Zuriah (2003: 54) mengemukakan bahwa :
Penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas kegiatan yang ada didalamnya, seluruh prosesnya meliputi : telaah, asesmen, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan dampak, menjalin hubungan yang diperlukan antara evaluasi dan perkembangan profesional.
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, penelitian tindakan merupakan penelitian yang menekankan pada pengujicobaan suatu ide kedalam sebuah praktek dalam skala mikro, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan untuk memperbaiki situasi sosial. Penelitian tindakan merupakan penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi dan kehidupan para partisipan. Asumsinya, bahwa penelitian ini mengembangkan pengetahuan dari pengalaman, dan bahwa setiap orang dapat memperbaiki kondisinya dengan cara menyadari dan mencoba untuk melakukan sesuatu terhadap kondisinya itu (Neuman : 2000).
Masih menurut Neuman (2000), ada beberapa tipe penelitian tindakan, yaitu penelitian biasa atau pengetahuan popular, penelitian yang terfokus pada kekuatan dengan tujuan pemberdayaan, penelitian yang bertujuan untuk membangun kesadaran atau meningkatkan kesadaran dan penelitian yang terikat secara langsung dengan aksi politik.
Berkaitan dengan konteks penelitian, tipe penelitian tindakan yang akan digunakan adalah penelitian yang terfokus pada kekuatan dengan pemberdayaan. Pemilihan tipe ini dengan alasan karena sesuai dengan konteks penelitian yaitu untuk mengembangkan kapasitas masyarakat miskin di RW 03 Kelurahan Babakan Ciamis dalam mengakses sumber sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.
  1. Penjelasan Istilah
Judul Penelitian ini adalah Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendayagunaan Kelompo Bhakti Ibu Dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Di Kelurahan Babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung,
Istilah-istilah dalam judul penelitian diatas dapat dijelaskan berdasarkan pengertian peneliti adalah sebagai berikut :
1.      Pendayagunaan atau disebut pula dengan istilah pemberdayaan masyarakat adalah adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memberikan kekuatan/kemampuan terhadap masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya, yang meliputi pengetahuan, ketrampilan, kepemilikan usaha serta keterlibatan mereka dalam organisasi serta dalam menentukan arah kehidupannya.
2.         Kelompok Bhakti Ibu yang dimaksud dalam penelitian ini adalah  ibu-ibu di RW 03  Kelurahan Babakan Ciamis yang berprofesi sebagai pedagang informal.
3.      Kelompok adalah berkumpulanya dua orang atau lebih untuk melakukan kegiatan bersama secara kolektif dan mereka memiliki kepentingan dan tujuan yang sama.
4.      Kemiskinan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kondisi yang tidak menyenangkan yang dialami oleh kelompok masyarakat Kelurahan Babakan Cimais karena ketidak mampuan mereka memenuhi kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kurangnya modal usaha.
  1. Latar Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di RW 03 Kelurahan Babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung. Adapun sasaran penelitian adalah warga miskin dan masyarakat yang terlibat dalam program yang telah dilaksanakan selama peneliti melakukan praktikum untuk menemukan perbaikan model pemberdayaan warga miskin dalam mengakses sumber sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.
  1. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data diperoleh dari sumber data primer dan sumber sekunder. Jenis data yang diambil adalah data kualitatif sedangkan data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah oleh peneliti secara langsung dari sumber data/informan dalam penelitian ini yaitu warga miskin di RW 03 Kelurahan Babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung. Adapun sumber data sekunder adalah ketua RT, RW, aparat desa, dan pihak-pihak yang terlibat, dalam kegiatan. Sumber data diperoleh berdasarkan purposive yaitu sumber yang terlibat aktif dalam kegiatan.
  1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan oieh peneiiti dalam penelitian ini adalah :
a.         Community Involvement (CI)
Metode ini merupakan modifikasi yang dikembangkan dari metode partisipation observe dan oral history. Digunakan untuk membangun kepercayaan dan membangun kerjasama dengan masyarakat. Pelaksanaannya dilakukan melalui keikutsertaan peneliti mengikuti dinamika kegiatan masyarakat dan tinggal bersama masyarakat. Kebersamaan dengan masyarakat, selanjutnya digunakan untuk mengumpulkan data dasar berkaitan dengan pemetaan dan penggambaran tentang sumber-sumber yang biasa di akses oleh masyarakat dan bagaimana akses mereka tethadap sumber-sumber tersebut.
b.      Teknik Observasi
Mengamati apa yang dikerjakan oleh warga miskin dalam program, mendengarkan apa yng mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka. Pengamatan dilakukan secara partisipatif, dimana peneliti selain berperan sebagai pengamat juga berperan sebagai pendamping. Data yang dikumpulkan melalui observasi partisipatif adalah tentang gambaran awal kemampuan warga miskin dalam mengakses sumber dan implementasi awal model yang diterapkan pada warga RW 03 Kelurahan Babakan Ciamis Kecamatan Sumur Bandung.
c.       Teknik wawancara mendalam (indepth interview)
Wawancara merupakan serangkaian interaksi verbal dalam mengumpulkan data yang dilakukan dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan yang telah disusun secara sistematis dalam pedoman wawancara. Pedoman ini berguna sebagai alat kontrol agar pertanyaan yang diajukan sesuai dengan topik permasalahan. Wawancara mendalam merupakan proses pengumpulan data yang khusus dalam penelitian kualitatif yang dirancang untuk memperoleh gambaran dengan memfokuskan pada pertanyaan penelitian yang spesifik. Melalui teknik ini diharapkan peneliti dapat memperoleh informasi yang mendalam tentang permasalahan warga miskin dalam mengakses sumber, dan bagaimana hasil yang telah mereka rasakan setelah program yang mereka rencanakan dilaksanakan di lingkungan mereka. Peneliti juga ingin memperoleh gambaran mengenai hambatan-hambatan yang mereka rasakan selama mengikuti kegiatan program. Wawancara ini ditujukan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas atau melengkapi temuan hasil observasi partisipatif.
d.      Diskusi Kelompok Terfokus (FGD)
Untuk menemukenali masalah yang ada dimasyarakat, selain dengan teknik wawancara, praktikan menggunakan teknik diskusi kelompok terfokus, dimana yang menjadi fokus masalahnya telah ditetapkan sebelumnya. Kemudian masalah yang diperoleh sesuai kebutuhan tersebut didiskusikan untuk ditindaklanjuti dengan perencaan dan intervensi bersama masayarakat.
Melalui kegiatan FGD ini peneliti ingin memperoleh pandangan-­pandangan warga miskin dan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan program, sehingga akan diperoleh informasi tentang hambatan-hambatan, dan jalan keluar yang disepakati bersama dalam menanggulangi hambatan-hambatan tersebut. Melalui proses diskusi akan diperoleh pertukaran informasi diantara para peserta sehingga informasi dapat saling melengkapi sehingga mampu memberikan penilaian yang rasional dan realistis dalam melihat persoalan penelitian.
e.       Teknik Studi dokumentasi
Studi dokumentasi dilakukan dengan cara mempelajari bahan­bahan tertulis yang terdapat pada instansi-instansi terkait, serta literatur lain yang berhubungan dengan topik penelitian. Sebagai pelengkap teknik wawancara dan observasi, teknik ini ditujukan untuk melihat laporan-laporan kegiatan masyarakat sehingga peneliti dapat memperoleh gambaran kemajuan yang telah dicapai oleh masyarakat.
3.      Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk menjamin keabsahan data yang diperoieh peneliti, maka dilakukan uji terhadap keabsahannya. Mengacu pada Sugiyono (2008: 270) teknik pemeriksaan keabsahan data yang akan digunakan meliputi :
a.         Uji Kredibility
Dalam uji kredibilitas dalam penelitian ini akan dilakukan dengan:
1)        Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Menurut Sugiyono (2005:124) bahwa meningkatkan pengamatan bertujuan untuk menemukan ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal tersebut secara lengkap. Lexy J Moleong (2000:199) menyatakan bahwa ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-siri unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Penelitian secara terfokus dan tekun memungkinkan terungkapnya jawaban fokus penelitian, dengan kedalaman informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
2)      Triangulasi
Menurut Sugiyono (2005:125) triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber, dengan berbagai cara dan dengan berbagai waktu. Pengecekan dengan triangulasi sumber data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperolah melalui beberapa sumber (contoh : Atasan, bawahan dan teman). Pengecekan dengan trianguasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda (misal : wawancara, observasi dan dokumentasi). Pengecekan dengan triangulasi waktu dilakukan dengan cara melakukan pengecekan data yang diperoleh dalam waktu yang berbeda (misal : pagi, siang dan malam).
3)      Menggunakan Bahan Referensi
Menurut Sugiyono (2005:128) bahan referensi disini adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan, misalnya hasil wawancara dan foto-foto.
b.      Uji Tranferability
Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau dapat di terapkannya hasil penelitian ke populasi dimana sampel tersebut diarnbil. Peneliti dituntut dapat memberikan gambaran tentang laporan penelitian dengan uraian yang jelas, rinci, sistematis dan dipercaya, sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca. Tujuannya supaya pembaca dapat dengan jelas menangkap apa yang disajikan oleh peneliti dan ada kemungkinan orang lain menerapkan hasil penelitian ini dengan karakteristik masyarakat yang sama.
c.       Uji Dependability
Uji ini dilakukan dengan audit terhadap keseluruhan proses penelitian Dalam penelitian ini dependability dilakukan oleh auditor independen, yaitu Dosen pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian.
d.      Uji Konfirmability
Uji ini hampir sama dengan uji dependability yaitu pengakuan terhadap hasil penelitian oleh orang banyak. Uji ini dapat dilakukan bersamaan dengan uji dependability dalam proses audit yang dilakukan oleh Dosen Pembimbing.
  1. Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif, menurut Bogdan & Biklen dalam Moleong (2005: 248): Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah­-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Analisis kualitatif merupakan suatu proses yang harusdikemukakan secara rinci dan memerlukan penjelasan tehadap komponen-komponen yang ditemukan.
a.         Reduksi data (data reduction)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data dapat, dibantu dengan peralatan elektronik seperti komputer mini, dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu.

b.      Penyajian data (data display)
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan dan hubungan antar kategori. Miles & Huberman (1984) menyatakan " the most frequent from the display data for quantitative research data in the past has been narrative text". Yang paling penting digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.
c.       Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti mejadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
  1. Langkah-langkah penelitian.
No
Kegiatan
Tahun 2011


Okt
Nov
Des

1
Pengajuan Proposal




2
Seminar Proposal




3
Perijinan




4
Melakukan Penelitian




5
Membuat Laporan




6
Mengikuti Ujian











DAFTAR PUSTAKA
BUKU-BUKU:

Adimihardja, Kusnaka dan Harry Hikmat, 2004, Participatory Research Appraisal, “ dalam Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat”, Humaniora Utama Perss, Bandung
Ahmadi, Abu, 1991 Edisi Revisi, Ilmu Sosial Dasar “ Untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi Mata Kuliah Dasar Umum”, Rieneka Cipta, Semarang.
Chambers, Robert, Alih Bahasa M Dawam Rahardjo, Pembangunan Desa”Mulai dari Belakang”, LP3ES.
Dwi Heru Sukoco.1991.Profesi Pekerjaan Sosia dan Proses Pertolonagnyal.Bandung Kompma STKS
DEPSOS dan KOPMA STKS Bandung, 2003, Hasil Penelitian Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial , KOPMA STKS Bandung.
Huraerah, Abu, 2008, Cetakan pertama, Pengorganisasian pengembangan Masyarakat “ Model dan Strategi pembangunan Berbasis Kerakyatan, Humaniora, Bandung.
Irwanto, 1998, Focus Discusiion (FGD), Pusat Kajian Pembangunan Masyarkat, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta
Ife,2003, Pengembangan Masyarakat dalam” Menciptakan Alternatif-alternatif Masyarakat-Visi, Analisis dan Praktik, Longman, Autralia Pty Ltd 1995.
ICMI Pusat, ICMI ORWIL DIY dan PPSK Jogjakarta, 1995, Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia, Aditya Media, Jojakata
Johson, Doyle Paul,  19988 jilid I, disadur oleh Robert Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, P.Gramedia, Jakarta.
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial, Vol5 No.1, Juni 2006, Kemiskinan Dalam Perspektif Pekerjaan Sosial, Instalansi Penerbitan STKS Perss, Bandung
Jurusan PSM STKS Bandung, 2008, Teknologi Pengembangan Masyarakat “ Manual Praktek 2” KOPMA STKS, Bandung
Netting, 2001, Alih Bahasa oleh Nelson Aritonang dan Heery Koswara, Social Work Makro Pratice, Logman
Rudhitho, Bambang, 2003, Akses Peran Serta Masyarakat “ Lebih Jauh Memehami Community Development” IKAPI, Jakarta.
Sutandyo, 2005, Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial” Ketika Pembangunan Tak Berpihak Kepada Rakyat Miskin, Airlangga University Press, Surabaya.
Soekanto, Soerjono, 1990 Edisi Baru Keempat, Sosiologi Suatu Pengantar, Fajar Interpratama Offset, Jakarta.
Suharto, Edi. September 2005 (cetakan pertama). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Suharto,Edi, 2009, Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia “ Menggagas Model Jaminan Sosial Universal Bidang Kesehatan, Alfabeta, Bandung
Suharto, Edi,  2005, Analisis Kebijakan Publik “ Panduan Praktis mengkaji masalah dan Kebijakan Sosial, Alfabeta, Bandung.
Suharto, Edi, 2008,  Kebijakan Sosial “Peran Pembangunan Kesejahteraan Sosial Dalam mewujudkan Negara Kesejahteraan (Welfare State) di Indonesia, Alfabeta, Bandung
Sutarso, 1992, Praktek Pekerjaan Sosial, KOPMA STKS, Bandung.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar